Thursday, April 11, 2013

Toga buat Dara

TOGA BUAT DARA
Awan tampak mendung, riuh angin menerbangkan dedaunan di sekeliling tempatku berada, “nampaknya akan turun hujan yang deras”, dengungku dalam hati. Aku mulai cemas akan pulang ke kos dalam keadaan basah kuyup, karena cuacanya mendadak berubah, sementara aku mengikuti kajian intensif disebuah organisasi ekstra kampus yang memberiku makna akan sebuah paradigma berpikir yang jauh lebih bijak. “Fitrah, hei fitrah”, tiba-tiba aku dikejutkan dengan sapaan teman kelasku, Dara. “Ada apa, kok melamun?”. “Ngak, takut aja liat cuaca diluar”, jawabku sedikit cemas.

Tak lama kemudian kajian itu berakhir, aku dan Dara pun bergegas untuk kembali ke kos, tapi belum aku langkahkan kakiku keluar pintu, salah seorang seniorku memanggil kami, “ini, ada surat mandat untuk kalian”, kata seniorku, yang tak lama kemudian beranjak pergi. Surat mandat itu berisikan amanah untuk menjadi panitia inti untuk penerimaan anggota baru di organisasi kami. Seraya aku terkejut melihat posisiku yang sangat strategis dikegiatan itu. Pasalnya, aku teringat oleh pesan orang tuaku sebelum kutinggalkan kampung halaman untuk kuliah dengan baik tanpa melakukan hal-hal yang mengganggu aktifitas kuliah, namun yang kudapati adalah sesuatu yang beda, aku membutuhkan perkuliahan, namun aku juga tak bisa meninggalkan organisasi ini, tempatku berproses memperoleh pengalaman yang tidak aku temukan di bangku perkuliahan, tapi aku juga tak mungkin melanggar amanah yang diembankan kepadaku, apalagi amanah dari orang tuaku, orang yang melahirkan dan merawatku sejak kecil.

Lamunanku buyar saat Dara kembali mengagetkanku, “ada apalagi fit, Bengong amat liatin tu kertas?”. “Ini Dara, aku takut melalaikan amanah orang tuaku”, jawabku. Dengan raut wajah yang heran, Dara balik berbicara. “Nah loh, Kenapa memangnya?”. “Aku takut kalau kuliahku bakal terganggu oleh organisasi ini, aku sudah janji sama bundaku”. Melihat reaksiku Dara menghela nafas panjang lalu berkata, “maksudnya?, liat aja sendiri selama kita disini organisasi ini menberikan banyak hal baru kepada kita. Percayalah, ini akan baik-baik saja, buruk tidaknya sesuatu tergantung dari diri kita sendiri, dimana kita menempatkannya, kita hanya perlu mengetur waktu, ia kan?”, melihatnya begitu yakin aku hanya bisa mengangguk.
Sesampai di kos aku hanya membuka sepatuku dan merebahkan badanku ketempat tidur. Mungkin karena kelelahan, tidak sampai 5 menit aku terlelap tidur. Saat aku terbangun, rupanya adzan maghrib telah bergema, lekas aku ke sumur, lalu mengambil air wudhu, untuk melakukan shalat maghrib dengan harapan hatiku akan sedikit lebih tenang. Usai shalat, mataku tertuju pada secarcik kertas yang diberikan oleh seniorku tadi, aku masih memikirkannya. Lalu kuputuskan untuk mencoba menjalankan kedua kebutuhan itu. Kegiatan yang ditunggu telah tiba, ini saat aku menjalankan tugas yang diamanahkan. Walhasil, kegiatan yang kulakoni dengan kerja keras akhirnya sukses.

Waktu berjalan begitu cepat, akhirkan apa yang kutakutkan itu terjadi. Dibandingkan teman-temanku yang lain, aku memang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang lebih baik dalam intelektual dan pengalaman di banding mereka, namun itu harus kubayar dengan beberapa nilai mata kuliah yang rusak. Aku sendiri bingung harus bangga atau menyesal, masih beruntung nilaiku masih mencukupi untuk mengikuti KKN, sayangnya tempatku KKN berbeda dengan tempat sahabatku, Dara. Tapi Dara, teman sejatiku berpesan satu hal padaku sebelum mengangkat koper ke bus masing-masing, “gunakan kemampuan yang kamu miliki untuk akademik dan mengabdi kepada masyarakat, kamu bukan tipekal orang yang mudah mati akal”. Itulah pesan seorang Dara sebelum ia berangkat kelokasi.

Tak kusangka itu menjadi pesan terakhir Dara padaku. Sebab dalam perjalanan kelokasi, bus yang ia tumpangi mengalami kecelakaan hebat, hal itu kuketahui setelah sebuah SMS masuk di HPku sesaat aku tiba dilokasi KKN. Tak kuasa aku menahan air mataku jatuh, Dara meninggalkanku dalam keadaan, yang aku sendiri tidak bisa melihat jenazahnya. Aku tidak tahu harus menyalahkan siapa, dan kemana aku harus memulai untuk menenangkan perasaanku, bahkan kabar kepergian Dara, seseorang yang hadir dikehidupanku sebagai sosok malaikat, yang selalu menopangku disaat gundah, meniupkan angin sejuk di saat aku resah, memberiku air zam-zam di saat aku kehausan dan tempatku berbagi semua hal, entah apa yang ada dipikiranku, akhirnya aku menyadari bahwa sahabatku menghadap sang khalik, ia tenang di sana. Malam hari aku baring sambil mengingat masa-masa indah penuh suka dan duka bersama Dara, tak sadar aku tertidur pulas, di dalam tidurku aku bermimpi berketemu dengan dara, ia nampak ceria memakai pakaian putih lalu berkata padaku “ aku akan selalu di hatimu saudari, meski alam kita berbeda, semoga engkau masih mengingat pesanku”. Sekejab, aku terbangun, aku lalu termenung dengan apa yang baru saja terjadi padaku, aku lalu tersadar akan sesuatu, untuk kesekian kalinya, dara lebih baik dariku.
Saat ini, hanya itu yang kumiliki, sebuah pesan dari seorang sahabat. Akan kubuktikan padanya bahwa aku bisa penuhi amanah yang ia titipkan, di lokasi KKN aku membuktikan apa yang ucapkan Dara, apa yang kudapatkan di instansiku, sangat berguna ditempatku sekarang ini, aku telah memiliki pengalaman sehingga aku lebih menonjol dibanding kawan-kawanku yang lainnya. Tawaran demi tawaranpun datang silih berganti hanya dalam kurang lebih 2 bulan di lokasi KKN, hal itu menunjukkan aku mampu, benar apa kata Dara, ini baik untukku.

Kembalinya dikampus aku bergegas mengurus semua nilaiku yang boleh kukatakan “error”, sampai akhirnya aku mampu menyelesaikan studiku kurang lebih 5 tahun, setelah kumenerima ijazahku, aku menyempatkan diri untuk berziarah ke makam sahabatku, sahabat sejati yang tak pernah ku dapati sepertinya semenjak kepergiannya, “terima kasih kawan”, terlontar kata itu secara refleks dalam hatiku sambil meletakkan toga kebanggaanku diatas nisannya.

Aku sempat pulang ke kampung halamanku untuk memperlihatkan keberhasilanku kepada bundaku yang hanya semata wayang, setelah itu aku kembali ke kota dimana aku bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Jenjang pendidikan S2 pun kujalani dengan keberanian dan sambil berkrja akhirnya aku bisa menyelsaikan study s2 dengan mandiri, lalu setamat S2 aku ditawari temanku untuk mengajar di salah satu perguruan tinggi sewasta yang ternama. hingga aku menempuh jenjang S3, aku kini telah menjadi salah satu guru besar di sebuah universitas ternama di Indonesia, setiap ku merindukan sosok seorang dara, aku berkunjung ke makamnya, terkadang aku bercerita seorang diri didepan kubur Dara, tak ada yang dapat kuberikan lebih selain kata terima kasih kepadanya, toga yang kuletakkan bertahun-tahun yang lalu itupun telah usang, terima kasih kawan aku telah penuhi janjiku padamu, mungkin inilah caraku berterima kasih kepadamu, tenanglah kau di pankuan sang pencipta. Diusiaku yang sudah tua ini, tak lama lagi aku akan menyusulmu dan kita akan bersama untuk selamanya.

Terima kasih karena berkomentar dengan penuh etika
jangan lupa klik like fanspage facebook yah..
EmoticonEmoticon