Wednesday, December 14, 2011


Setelah postingan saya beberapa hari yang lalu mengenai PARADOKS DEMOKRASI INDONESIA (Kasus Century dan KPK), kali ini saya berinisiatif untuk menulis, menuahkan sampah2 ringan yang ada dalam pikiran saya..


Maros,  berpijak dari seuntai perkataan bijak dari seorang senior yang saya tuakan di organisasi kemahasiswaan ekstra kampus, sebut aja organisasi itu Himpunan Mahasiswa Islam, mungkin sudah banyak yang mengenal dengan organisasi mahasiswa tertua di Indonesia tersebut, organisasi yg didirikan oleh Ayahanda Lafran Pane ini adalah wadah saya berkiprah mulai dari awal menginjakkan kampus hingga semester akhir yang tak tau kapan bisa mendapatkan sebuah gelar yang begitu di-idam-idamkan orang tua ku. Sebenarnya saya mampu mendapatkan title itu, terang saja saya begitu yakin. toh banyak kebobrokan-kebobrokan dan penimpangan yang pernah diperbuat para kaum elite dikampus nan mewah tersebut yang kini ada dikepakan tangan saya, namun jika saya melakukan hal keji yang tak segaris dengan idealisme mahasiswa, lalu apa bedanya saya dengan para birokrasi Negara yang hanya bias menikmati APBN tanpa kinerja yg memuaskan rakyat ?? itu sama saja dengan yang dilakukan oleh nunun yang menghalalkan segala cara demi kepentingannya kedepan atau bagai seorang orator ditengah jalan yang berpanasan dibawah terik matahari dengan sebuah megapon ditangannya, yang katanya sih menyuarakan aspirasi rakyat tapi toh nyatanya jika kita telusuri sebab muasalnya. Hha, seorang orator yang katanya pencari keadilan itu ternyata menjual teriakannya dan kepala kawan2 idiotnya itu, lalu hanya dengan membawa teman2nya ke warung makan murahan pikirnya dia sudah memuaskan dan menyenangkan kawan2nya yang tak tau apa-apa itu. Sementara setelah 3 jam keluar dari warung makan, si mahasiswa yang mengaku pencari keadilan tersebut sudah membawa sebuah handphone merk terbaru yang harganya jika dihitung, mampu dia gunakan buat ongkos makannya selama setahun. Waoow… hebat yah, hanya dengan berteriak kurang dari se-jam dia sudah bisa membawa pulang barang electronic yang harganya sebanding dengan 10 handphone yang dimiliki kawan seperjuangannya. Pantas saja saya pernah melihat para pendemo yang hanya berkuantitas 15 orang sudah mampu membuat macet yang panjang jalanan yang lebarnya tak kecil juga. Padahal masih terniang dikepala saya sewaktu masih menjadi seorang MABA, tak ada yang berani berorasi dan menutup jalan kalau itu kurang dari 50 kepala. Sudah jelas semua karena MATERI.
Sanging berkobarnya sampai lupa topic yang sempat terlintas dipikiran hingga berinisiatif untuk menulis. Oh iya, seoran senior yang dulunya saya banggakan pernah bilang seperti ini kepada saya “realistis, dalam hidup kita tak akan lepas dari politik dan kita harus jelih karena dalam politik yang sesungguhnya tidak ada kawan maupun lawan yang ada hanya kepentingan”. Itulah yang ingin saya sampaikan kepada pembaca bahwa ketika kita sudah ikut andil dalam sebuah organisasi maka gunakan apa yang telah dan pernah diberikan (positif), masih banyak yang merasa dirinya (memiliki idealism kuat) sudah cukup matang dalam tempat dia berkiprah tapi belum sadar akan pola organisasi yang akan terus berubah seiring dengan jaman.
Coba kalian bayangkan betapa hancurnya organisasi ketika mereka (kader) dalam satu wadah organisasi saling mencaci, saling menjatuhkan dan saling mengungkit dan memperlihatkan kesalahan. Itulah yang terjadi di salah satu organisasi tertua di Maros, tak lazim disebut HPPMI. Organisasi Pemuda yang didirikan oleh ayahanda Abd. Kadir Parewe ini tidak mencerminkan (Kader) sikap seorang Organisatoris lagi, betapa tidak ketika salah seorang pembesar di HPPMI pun merasa resah ketika penulis Tanya pendapatnya tentang roda organisasi HPPMI dalam konteks kekinian, “Sekarang HPPMI menurut kacamata saya, ada sebuah pergeseran nilai-nilai kemanusiaan dan paradigma kader dalam memandang HPPMI secara kelembagaan baik dalam mengawal Subtansi (AD/ART, Garis Perjuangan,dan arah kebijakan) maupun pola gerakan sebagai sosial kontrol di Maros..dan Dinamika itu terjadi disetiap kepengurusan,jadi sebenarnya tidak ada yang sempurna didunia ini kecuali Allah SWT..Disisi lain sekarang saya melihat naik Grafiknya,,kita tidak menyalahkan Lembaganya atau Leadernya tapi, pola gerakan yg dipakai kayaknya agak lari dikit dari substansi”. Ungkap seorang pencari kebenaran yang kerap disapa Halis (FB: halis Pagala).
Selain itu, kerap juga saya dapati di sebuah gadget Chatting Group milik Facebook mengatakan dengan jelas bahwasanya akan lebih baik jika dibuat Lembaga TANDINGAN untuk HPPMI. Loh ?. emang Hppmi salah apa sehingga ada yang ingin membuat lembaga tandingan. Kawan..Negara kita sudah cukup hancur dengan berbagai macam argument dan dualisme dari setiap gerbong, belum lagi didaerah Maros sudah banyak organisasi2 pemuda yang sampai sekarang pun penulis tak tahu apa orientasi dari Organisasi tersebut ?.  emang ada jaminan kalau lembaga tandingan untk HPPMI dibuat akan merubah keadaan ?? mungkin iya akan merubah keadaan, tapi bukan menjadi baik malah memperkeruh dan menambah perpecahan pemuda Maros. baik tidaknya organisasi semua tergantung dari kadernya, mestinya sebagai kader harus sadar akan realitas dan sudah menjadi hukum mutlak jika organda dimasuki oleh kaum2 yang mempunyai kepentingan namun dari segi itulah sebenarnya seni berproses diorganisasi, berfikir untuk memecahkan persoalan berarti anda sudah memacu adrenalin secara tak sadar. “jangan sebut diri kalian pejuang jika dalam setiap problem hanya mampu mengkritik, mengkritik dan mengkritik tanpaa melakukan sesuatu pun“. kalau memang mau berbuat untuk Maros, BUKTIKAN. tidak usah trlalu banyak mengkritik, kita semua satu.
Wishom bislop pernah berkata seperti ini “orang yang tak pernah melakukan kesalahan biasanya adalah orang yang tak pernah melakukan apapun”. Benar tidak ?.
Saya bukannya orang yang sudah lama dan mengenal Hppmi secara mendalam, namun tidak etis bagi penulis jika melihat organisasi tertua yang berada dikampung kelahiran penulis hanya bias memperlihatkan kecerdasannya dalam mengkritik (atau boleh dibilang sok cerdas kali yah). Namun ketika saya sedikit berdiskusi dengan salah seorang pembesar HPMMI dahulu yang mulai ber-HPPMI tahun 1996 ”mulai rintis dr Komisariat Camba, waktu itu baru 2 Komisariat,Camba dengan maros kota dan PP HPPMI..masih Kanda Syahrir Pagessa jadi Ketua HPPMI..br jadi Ketua Komisariat Camba waktu Ka Irfan ketua tahun 1998,n jadi Presidium PP HPPMI..sampai periode Chaedir Syam...n periode Ilyas Cika,,rintis Lembaga Pencinta Alam (LPA) HPPMI Maros yg sempat pakum di periode I n Jadi Ketuanya LPA selama sampai tahun 2002...n periodenya Anshar sama Udi masih dampingi ade2 di LPA....yah banyak dinamika n pahit manis selama di HPPMI n pengalaman berharga buat saya” ungkap Halis.
Selain itu Kanda Halis Menambahkan sebagai seorang kader pembaharu untuk Maros Kedepan mestinya kader HPPMI sekarang mampu memperlihatkan kemampuannya sebagai kaum intelektual, mental kuat, solid dan berkomitmen karena HPPMI adalah lembaga proses bukan lembaga popularitas. “perlu penyegaran lah,,saling mengingatkan...mental dan ideologi yg harus dimantapkan serta komitmen berlembaga...sa kira konsep pengkaderan yg perlu di variatifkan Kurikulumnya,,kita harus menyadari bahwa HPPMI adalah lembaga untuk berproses bukan masuk HPPMI tuk mencari popularitas dan Kehidupan,,justru kita harus menghidupi organisasi itu..tapi kita harus optimis tuk bersama2 kembali ke jalan yang lurus,,secara intelektual,berfikir dewas dan solid...” tutupnya.
Mungkin seperti itulah yang hanya bisa dikatakan oleh alumni HPPMI, sesuai dengan semboyan “Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi”. Yang patut kita cerminkan..
Tulisan ini hanyalah hasil buah pikiran yang tak lama lagi kadaluarsa, oleh karenanya saya tuahkan dalm blog yang sangat sederhana ini. Karena berhubung sudah pagi, mau tidur dulu. Jika ada salah kata mohon maaf, seprti biasa manusia adalah dzat yang tak luput dari kesalahan ..billahi taufiq walhidayah.. wassalam

Di Mana HPPMI Mesti Berpijak ?.

Terima kasih karena berkomentar dengan penuh etika
jangan lupa klik like fanspage facebook yah..
EmoticonEmoticon