Wednesday, November 30, 2011

RELATIVITAS DAN REALITA KETAMPANAN

Terkadang dalam kisah seorang hawa, ketampanan selalu menjadi ukuran. Begitupun dengan kaum adam, yang selalu membandingkan kecantikan seseorang dari fisiknya. Jika dikaji dalam ilmu mistisisme, ketampanan nyatanya tak lagi relative namun memang benar – benar tidak ada. saya teringat dengan diskusi lepas di sebuah beranda rumah tempat saya mendulang ilmu(dulunya).  Diskusi yang membahas tentang kebenaran kegelapan ini merangsang ‘birahi intelektual’ kami  (saya dan saudara2 seperjuangan) untuk ‘berselingkuh’ dengan  sekian banyak pemahaman filosof dan  para sufi hingga perdebatan alot tak mampu kami bendung lagi. Diantara enam panglima
perang diskusi saat itu, masing-masing mengeluarkan argumen ilmiah nan berbeda hingga kami saling menentang dan tak mau menerima argumen antara satu dan lainnya. Pada akhirnya seorang senior yang kami tuakan menuntaskan diskusi ini. Semua argument yang kami keluarkan itu mampu dipertemukan dengan kamus referensi  ilmiah miliknya.  Dirinya berfalsafat dan mencoba merasionalkan bahwa kegelapan itu tidak ada, yang ada hanya pengaruh minimnya cahaya yang melingkupi tempat itu, hingga kemudian disepakati dengan nama gelap. Teringat dengan ceramah Imam Ali bin Abi Thalib yang di paparkan dalam buku Rekayasa Sosial bahwa, “Sesungguhnya kata masyarakat itu berasal dari hati kesepakatan bersama”. Maka jelaslah bagi anda, jika tulisan ini lahir karena kesepakatan bersama.
Berbeda dengan persoalan ketampanan, tentu kita tidak serta-merta secara sepihak menjustifikasi penulisi ini kurang tampan setelah meneriakkan kata sepakat kepada orang lain bahwa “Pangeran kurang Tampan" Bagaikan sederetan orator pragmatis di tengah jalan yang meminta keadilan kepada pemerintah sementara dia sendiri tidak pernah adil terhadap dirinya sendiri.
Pada akhirnya, kami yakin jika ketampanan dan kecantikan itu memang benar dalam ketiadaan. Ia tidak lagi relatif, namun benar – benar tidak ada. saya yakin akan banyak kritikan dari pembaca yang budiman. Namun menurut hemat penulis, tampan atau cantik itu awalnya berasal dari ruh. Demikianlah kiranya gambaran dalam buku sebuah Filsafat Pendidikan Islam ala Dra. Zuhairini tentang hakekat manusia yang sempat kami baca. Dijelaskan bahwa hakekat pada manusia adalah ruh, dan manusia terdiri dari dua substansi yaitu materi yang berasal dari bumi sedang ruh sendiri berasal dari Tuhan. Dengan kata lain, jasad hanyalah alat yang dipergunakan oleh ruh. Ibarat mobil sebagai alat atau jasad dan manusia sebagai pemilik atau ruh dari mobil itu. Meski penampilan mobil itu jelek, namun karena manusia sebagai ruh yang memiliki hak atas mobil itu, tentu saja bisa memperindahnya dengan berbagai cara. Yaa,..misalnya saja, diseret ke bengkel untuk direnovasi ulang, semua tergantung dari pemiliknya (ruhnya).
Bagi saya ketampanan itu bisa disandingkan dengan kondisi organisasi yang katanya sih demokratis, sebut saja ia INDONESIA, Pergeseran nilai dan budaya sebagai bagian ketampanan yang disepakati kini mulai terlihat. Arus deras globalisasi menjadi proses ampuh meninabobokan  ruh yang ada di dalamnya, hingga ketampanan nilai Idealisme dan Nasionalisme  Insan dibuatnya kian memudar. Ditambah lagi, perilaku apatis, pragmatis, dan hedonis kini mulai menjadi penghias yang mencolok bagi sebagian besar Kaum Elitenya. Kondisi itulah yang membuat kami (PEMUDA Idealis) rindu dengan kejayaan masa silam yang tak pernah kami cicipi. Namun, kita tidak usah berfikir untuk menciptakan ruh yang baru di tubuh INDONESIA, karena bukan ruh baru yang dibutuhkannya. “Integritas Pemimpinnya”, sebuah kata yang begitu sederhana namun bermakna langit, itulah prinsip yang mestinya dipegang teguh oleh setiap pejabat negarav, saat ini mengupayakan kejayaan itu terulang memang agak sulit tapi semua impian tak akan ada tanpa  perjuangan dan pengorbanan .  Mungkinkah itu akan terwujud ??. Meskipun,  pemerintahan yang bersih itu hanya mampu menjadi harapan untuk sebagian kaum, namun setidaknya ada sedikit perjuangan yang mereka lakukan dibanding kaum elite. Semoga harapan ini tak hanya berbentuk semangat gebuh seperti yang kerap terjadi akhir-akhir ini. Semoga. Allahu a’lam bissawab
Demikianlah, hingga saya kembali merangkak untuk bisa berdiri dengan jari-jari manis saya dengan blog yang sangat...sangat...sangat sederhana ini. Bersandar pada sepenggal motivasi, “Apa saja yang dapat dimengerti dan diyakini oleh pikiran, dapat diraih oleh pikiran dan tak satupun yang bisa kita yakini kecuali dengan gambaran mental”. Jangan pernah percaya sepenuhnya dengan semangat dan ketampanan yang nampak, karena itu hanya akan membuahkan harapan yang klise. Yakin Usaha Sampai.

2 komentar

Tampan = mampu menempatkan akhlak menjadi yang terdepan :D

Terima kasih karena berkomentar dengan penuh etika
jangan lupa klik like fanspage facebook yah..
EmoticonEmoticon