Thursday, December 1, 2011

Sajak Senja di Pondok Kumal

Puisi

Akankah setelah aku makan di piring hijau itu,
Tak ada lagi seorang ibu atau ayah yang
Akan menyuapi, menambah dan mengatur setiap
suapan nasi pada adik-adikku yang sedang kelaparan ini.
Aku masih merasa terlalu dini dan hadap diri dari kakak-kakakku yang sedianya masih punya
sepasang sendok dan garpu untuk adik-adikku.
Aku tidak mungkin menyuapi adik-adikku
Sementara aku sendiri masih terasa lapar dan dahaga.
Aku tak mungkin menyuapinya
Dengan tanganku yang kosong, kotor dan cacat.
Aku hanya mampu berharap dan berusaha
Untuk membuat adik-adikku seper
ti aku
Yang masih bisa makan di waktu pagi, siang dan sore hari.

Ah, moga adik-adikku juga mengerti dengan
keberadaanku Yang tak punya daya apa-apa untuk
embuatnya kenyang.
Aku hanya berharap Adik-adikku tidak meminta makan dari piring orang lain Selain aku, ibu,ayah dan kakak-kakakku

Bagiku,
Semuanya berawal dari sebuah pondok kecil
Konon di masa lampau,
Pondok itu bagai selayang pandang fajar di pagi hari.
Kicauan burung-burung beo yang penuh retorik makna hidup.
Burung kakatua yang cekatan.
Burung elang yang begitu perkasa
Dan kumpulan burung pipit yang kompak
malantunkan sebuah lagu.
Tak ku tahu,
Gubuk itu menjelma menjadi istana suram
Dipenuhi burung hantu,
Kelelawar dan kumpulan burung pemakan bangkai.
Sekarang,
Masih bisakah aku berharap aroma surga
Di balik pondok yang kumal itu??

*By: Ada Algebra

“Orang yang Tidak Pernah Melakukan
Kesalahan Biasanya
Tidak Pernah Berbuat
Sesuatu Pun”
Bishop William Connor
Magee

1 komentar:

puisi yang bagus...
Puitis ternyata om..

Terima kasih karena berkomentar dengan penuh etika
jangan lupa klik like fanspage facebook yah..
EmoticonEmoticon